Sebuah Pengantar Untuk Pemula
Ketika Anda memutuskan untuk mengambil S2 Linguistik, apa yang ada di pikiran Anda? Meraih gelar master sebagai kebanggaan, mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, tuntutan profesi, ataukah hanya iseng? Entahlah, saya tidak tahu yang ada di pikiran Anda, dan itu karena saya tidak benar-benar bertanya. hehe
Yang ada di pikiran saya, dengan mengikuti kuliah, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, dan membaca buku-buku yang diwajibkan/disarankan dosen, Anda pasti ingin menguasai linguistik. Linguistik yang dimaksud pastinya struktural, yakni yang pertama kali diusulkan oleh Ferdinand de Saussure dalam kuliah-kuliahnya. Ya, jika Anda mendengar kata “linguistik” berarti pasti merujuk pada linguistik secara struktur.
Struktural dalam linguistik ada tiga cabang, yakni fonologi, morfologi, dan sintaksis. Adapun yang masih kontroversi masuk dalam struktural adalah semantik. lmu-ilmu berbasis linguistik lainnya hanyalah pengembangannya saja, misalnya pragmatik, analisis wacana, sosiolinguistik, etnolinguistik, tata bahasa generatif, linguistik kognitif, dan sebagainya. Namun, seorang calon linguis diwajibkan untuk belajar dan menguasai linguistik struktural terlebih dahulu sebelum beranjak ke ilmu-ilmu pengembangan tersebut.
Berkaitan dengan pembelajaran linguistik, ilmu pertama yang wajib (‘ain) dikuasai para calon linguis adalah fonologi (juga disebut fonemik). Mungkin bila dibandingkan (meskipun tetap tidak dapat dibandingkan), secara ekstrim, dengan agama Islam, fonologi boleh dibilang sebagai syahadat-nya linguis. Sebelum mengucapkan syahadat, pastikan mengetahui seluk beluk Islam terlebih dulu: nah, kalau yang ini bisa dibilang fonetik! Ilmu tentang bunyi bahasa ini bukan bagian dari linguistik, tetapi sangat membantu dalam pengkajian fonologi. Kedudukan fonologi dalam linguistik pun sama, yakni sebagai tumpuan pertama seseorang nantinya bisa disebut sebagai seorang linguis.
Untuk uraian lebih lanjut, silakan membaca blog ini satu per satu.